Top

Jika Semua Agama Benar, Tuhan Tampaknya Sedang Belajar


Tuhan yang begitu “galak” di kitab Taurat atau Perjanjian Lama, dan memuliakan hari Sabtu, secara drastis melunak, menjadi begitu penuh maaf dan cinta kasih di Perjanjian Baru, dan memajukan hari baik menjadi Minggu. Eh, balik lagi menjadi tegas dalam Al-Qur’an, dan malah memundurkan penghulu hari menjadi Jumat.

Maka jika ketiga agama ini benar (dari sisi Tuhan), bukankah Ia kelihatannya sedang belajar, atau seperti sindiran iklan minyak kayu putih, Tuhan kok coba-coba?

Bukan mengada-ada, tapi begitulah adanya, sebuah revisi beruntun dari Tuhan, dalam wadah tiga agama “langit”; Yahudi, Kristen, dan Islam. Lihat sosok Tuhan yang begitu “galak” dalam kisah anak-anak Yehuda, seperti direkam Perjanjian Lama berikut.

Tetapi Er, anak sulung Yehuda itu, adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia.

Gitu doang, no further explanation.Pokoknya di mata Tuhan dia jahat, titik. Sepeninggal Er, Tamar menjanda. Seperti antrian pewaris tahta Kerajaan Inggris, Onan mendapat titah, “You’re next!”

Tapi tunggu dulu. Onan bukan lelaki tanpa harga diri. Dia tak sudi melanjutkan cinta yang terbengkalai. “Emangnya gue cowok apaan,” begitu kira-kira batinnya. Tapi Onan nan moderat tak memilih jalan frontal. Lagian, meski mengaku ngga minat, toh ia ereksi juga, dan menyelinap ke tubuh hangat mantan kakak iparnya itu. Tapi mencucurkan protein berisi benih kehidupan itu? Nggak layaw!

Zaman itu belum mengenal alat kontrasepsi, seperti kondom (apalagi kondominium). Apa boleh buat, mencegah sel nan lincah itu berenang dan berlabuh di ovarium, metode manual berbasis coitus interruptus pun dilakoni.

Sedapnya hayo, pembuahan no no! Tapi Onan lupa, tak ada yang luput dari tatapan tajam penguasa alam. Merasa diakal-akali, tak buang waktu, Tuhan memencet tombol Ctrl+Alt+Del sekaligus, dan nyawa Onan kontan shut down!

Beneran ngga bisa ngebayangin, andai hari ini Tuhan masih “seemosional” itu. Mungkin setiap pagi, petugas kepolisian akan menemukan mayat lelaki telanjang, dengan kondom masih terpasang di “belalai”-nya. Yep, eksekusi mati bagi mereka yang cuma mau enaknya tapi ogah konsekuensinya.

Gimana ya “perasaan” Tuhan mendengar tagline iklan karet tipis dengan aneka rasa itu: “Gunakan kondom, bukti Anda bertanggung jawab”. Yee, bukannya lebih pas, “Gunakan kondom, jika ngga mau repot-repot bertanggung jawab”.

Banyak kisah tragis bin brutal lainnya dalam Perjanjian Lama. Adalah cerita biasa, jika seluruh negeri luluh lantak dihantam bencana, hanya karena kesalahan sebagian atau malah seorang penduduknya.

Singkat cerita, dalam perjanjian lama, Tuhan tak segan-segan turun tangan langsung membunuh mereka yang di mata-Nya berdosa, atau dengan dingin menghabisi Onan cs., para pelakon “tembak luar” itu. (Ngga perlu footnote untuk frase ini kan?)

Pokoknya di halaman-halaman tua Old Testament itu, sosok-Nya layaknya Terminator deh.

Abad bertukar. Tuhan seolah menyadari, seolah lho, selama ini Dia agak terlalu “temperamental”. Bak insan nan bertambah usia, Dia menjadi lebih arif, dan hebatnya mendadak dangdut, eh, lembut. Lalai lalai lalai, tiada lagi badai. Lalai lalai lalai, emg sifat manusia lalai.

Alih-alih turun tangan, atau berepot-repot nongkrong di Gunung Sinai, tawar-menawar dengan Musa dan kaumnya, Tuhan memilih cara lain. Ia tak lagi take the business personally, tapi memutuskan untuk memanifestasikan diri, hidup dalam diri Yesus. Tuhan memanusia, dan seorang anak manusia menuhan.

Waduh, kali ini, the soft and tender side-Nya Tuhan benar-benar mendominasi Perjanjian Baru. Memang tidak serta merta Yesus membatalkan hukum lama nan cruel, old fashioned way-nya Perjanjian Lama. Dia bahkan menggaransi, satu noktah pun taurat tak akan diedit.

Hanya saja ia menyampaikan penawaran lain, a completely different way to make deal with the evil. “Ya, ya, emang dulu ada ketentuan mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki. Pokoknya the absolut law of revenge. Elu jual, gue beli. Tapi apa iya harus gitu. Survei membuktikan, kekerasan hanya akan mengundang kekerasan baru. Gimana kalo kamu malah nyodorin pipi kanan kalo dapat tamparan di pipi kiri. Jadi perihnya balance.

Kalo dia maksa minta kaos dalemmu, kasidaah ama jaket kulitnya sekalian. Dia maksa jalan dua tiga kilo, tantang dia long march napak tilas sekalian. Intinya, putus siklus kekerasan itu, dengan mengedepankan cinta kasih.

Yesus juga secara “tidak langsung” membuat hukum rajam terlihat jadi kehilangan urgensinya. Sekali lagi dia tidak membatalkan pasal rajam, seperti kerjaan Mahkamah Konstitusi membatalkan UU made in Senayan.

Ketika seorang wanita yang secara sah dan meyakinkan terbukti berzinah, diseret ke hadapan dia, dengan cantik Yesus memberi sebuah tantangan retorik, “Yang merasa tak punya dosa di antara kalian, monggo melemparkan batu untuk pertama kali”.

Massa tersipu-sipu, balik kanan, bubar jalan. Kini hanya tinggal Yesus dan si wanita pezina, yang tentu saja terpesona. “Mana mereka? Pada bubar kan? Ga ada yang berani mengeksekusimu kan?” katanya lembut. “Aku pun nggak bakal menghukummu. Udah sana, jangan ulangi lagi.”

Hayo, mulai deh pikiran nakalnya muncul. Berarti Yesus merasa dirinya berdosa juga dong, sehingga nggak pantes menghukum. Nggaklah… Narasi Al Qur’an apalagi Alkitab, tak pernah menceritakan setitikpun dosa Al Masih. Yang jelas, kekna susahlah ngebayangin, Yesus simbol kelembutan, kasih, keteduhan, segala yang gemulai deh pokoknya, bisa dengan beringas melempari si wanita, sampai tewas mengenaskan di TKP, dan kini sedang dibawa ke RSU terdekat untuk diotopsi. (Bahasa koran kuning banget).

Pesan dari kisah ini, mohon izin saya interpretasikan, Yesus mengakui bahwa Allah memang sudah menetapkan hukum yang keras itu. “Tapi kalau Dia memilih memaafkanmu, so what?”

Selain itu, cukup banyak bukti lain, di mana Tuhan melunak dalam Perjanjian Baru. Halal haram soal makanan, yang tadinya ketat dalam Perjanjian Lama, ibarat iklan tarif telepon selular, sekarang dilonggarkan habis.

“Semua yang masuk ke mulut, hajar saja. Yang haram adalah yang keluar, baik muntahan makanan yang ditolak sistem pencernaan, maupun sampah-sampah yang keluar dari hati: fitnah, dusta, dan kawan-kawannya”.

Maka di kampung kami di Tanah Batak sana, lahirlah ungkapan yang termasyhur itu. “Semua yang berkaki empat akan kumakan, kecuali meja. Itu pun karena keras kali”.

Tuntaskah? Sepertinya tidak. Saya tidak mengatakan tuhan berzodiak Gemini, sehingga sering bimbang dan berubah pikiran. Tuhan sepertinya menganulir lagi pembukaan kran kebebasan dan cinta kasih itu. “Mempercayakan segalanya kepada nurani dan cinta kasih di hati manusia, tampaknya berpotensi disalahgunakan. Hukum Tuhan harus kembali ditegakkan. Reinforcement the Law of the Almighty, Now!” Gitu kira-kira jalan “pikiran-Nya”.

Nah, ibarat Dekrit Presiden yang memberlakukan kembali UUD 1945, Al Qur’an pun turun, merevitaliasi sebagian besar hukum-hukum Taurat seperti tertulis di Perjanjian Lama. Babi kembali haram, sejoli mesum kembali dirajam, dan tak ada cerita dosa sudah ditebus. Tebus sendiri sono, pay it yourself.

———————————-

Itulah rute panjang hukum Tuhan, di mana anak-anak Ibrahim memilih halte kebenarannya masing-masing. Bagi orang Yahudi, taurat adalah kebenaran final. Maka Yesus adalah nabi palsu, konon lagi Muhammad. Perjanjian Baru adalah kitab tiruan, buah interpretasi sok funky dan serba mudah atas hukum kanon Tuhan.

Berikutnya Kristen, meyakini segalanya telah paripurna dengan pengorbanan Yesus. Ending apalagi yang lebih indah daripada ketika Tuhan sendiri merelakan anak tunggalnya menebus dosa manusia. Oh, so sweet, God Himself, memberi teladan, contoh nyata apa itu cinta, apa itu pengorbanan, dengan merelakan anaknya “terbunuh” dengan cara yang lebih kejam dari imajinasi seorang pembunuh berantai.

kubayangkan, sekali lagi ini cuma imajinasiku ya, tuhan bapa menahan sebah di dada, ketika dari surga sana ia menatap yesus, anak semata wayang itu, merintih makin lemah di kayu salib. tenggorokannya sang putra kering, darah mengucur dari kepala yang bermahkota duri.

dan di puncak pedih itu, the beloved child merintih lemah, “mengapa kau tinggalkan aku”. ah, mungkin ada sebuah momen, ketika tuhan nyaris saja membatalkan peristiwa itu.

nyaris saja dari bibirnya mendesis titah kepada para malaikat, “save him, bring him to life, f**k ‘em humanbeing, they’re just soilmade, they’re not deserve such sacrifice. i love my sweet child too much, look what i have done to him”.

untuk apa drama yang terlalu tragis ini dipentaskan? sebuah panggung derita yang terus menguras air mata hingga beribu tahun sesudahnya. masa sih tuhan bapa, yang kuasanya melebih segala, ngga bisa sekadar mengirimkan semacam formula anestesi, bius untuk mengurangi rasa sakit, sehingga yesus bisa mengakhiri drama itu dengan lebih mudah. meski akhirnya terkulai di kayu salib, paling tidak bibirnya bisa menyisakan senyum. bukan wajah penuh luka, mimik yang mencatat perih itu.

ya bisa aja dunk. tuhan kok dilawan. jangankan ngebius, membatalkan semua itu juga bisa kok. kalo dipikir, kuasa pencatatan dosa ada di tangan dia. otoritas pengampunan juga prerogatif dia. menghapus dosa, baginya (mestinya) semudah memformat sebuah harddisk. emangnya siapa yang mau protes kehendak tuhan?

tapi dugaanku, dengan berempati pada “logika” iman kristen nih ceritanya, demi mengajari kita cinta dan pengorbanan, tuhan sengaja memberi contoh nyata. tak tanggung, sedemikian cintanya dia kepada manusia, anaknya sendiri yang tunggal, dikorbankannya.

Lagi-lagi tak semua sepakat pada ending nan menguras emosi ini. “Itu cerita gombal,” kata suara parau dari jantung jazirah Arab itu. Tuhan itu mahasuci dari “menghamili” anak orang, mahasuci dari beranak dan diperanak.

Yes, Tuhan dengan jurus kun fa yakun-Nya memang membuat Maryam hamil, tapi bukan menghamilinya, sehingga anak yang lahir itu kemudian berhak disebut sebagai putra-Nya yang kudus. Plis deh, jangan mengkonsepsikan Tuhan seperti manusia. Laaisa kamislihi syaiun, tak ada yang semisal dengan-Nya.

Pola itu berlanjut. Islam tidak menampik keseluruhan ajaran sebelumnya. Yesus, the son of Mary, is always respected in a very special way. Dia Kalamullah, kata-kata Allah, Ruhullah, ruh dari Allah, alaihissalam, yang keselamatan selalu atasnya, ulul azmi alias utusan-utusan Tuhan yang kelas satu, dan seterusnya.

Islam pun kemudian melancarkan tuduhan yang sangat klasik, bahwa memposisikan Yesus sebagai anak Tuhan, sebagai satu unsur kesatuan trinitas bersama dengan Bapa dan Roh Kudus, adalah distorsi. Perjanjian Baru sekarang ini, bagi komunitas muslim, adalah kitab yang sudah terkontaminasi.

Konon the genuine verse-nya tinggal dikit, semisal Yohannes (17:3). Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Kalo dicermati, potongan ayat ini memang mirip betul dengan syahadat, gerbang pertama dan utama masuk ke dalam keyakinan Islam; Bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, satu-satunya Allah yang benar, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya.

Sementah penolakan terhadap keilahian Yesus pula, dunia Islam membantah cerita penyaliban di bukit Golgata itu. Bagi kaum muslimin, Tuhan itu majikan yang bertanggung jawab, yang nggak bakalan membiarkan satupun utusan-Nya, yang bekerja untuk kemuliaan-Nya, apalagi yang sekelas Yesus, dibunuh dengan cara sadis gitu. LAPD aja concern banget dengan keselamatan personelnya.

Tuhan diyakini sudah menggelar a rescue operation dengan sandi faceoff terhadap Sang Messiah, menyelamatkan Isa Almasih dari murka penghakiman manusia durjana. Yes, God saved Yesus, dan mensubstitusinya dengan Yudas, si murid pembangkang.

Jadi ngga ada itu dosa ditebus, emangnya resep dokter. Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Salah disiksa, benar dimanja, tapi pintu tobat selalu terbuka. Bagaimana antum rasa, fair enough kan? Subhanallah!

———————————————

Lagi-lagi, berhentikan proses konstruksi kebenaran dengan datangnya Islam, yang dibawa Muhammad, anak yatim buta huruf yang didapuk sebagai anugerah bagi seluruh semesta itu? Buat kaum muslimin, pasti. Tapi di luar itu sejarah masih berlanjut, berulang dan berulang.

Di belakang Muhammad sudah ada pula Mirza Ghulam Ahmad, dengan Ahmadiyahnya, Moshaddeq dengan Al Qiyadahnya, dan entah apa pula lagi yang akan muncul besok.

Bagaimana sebelnya Yahudi melihat Yesus “mengedit-edit” ajaran Taurat mereka, begitu pula Kristen gondok melihat Islam yang menurun-nurunkan pangkat Yesus dari anak tuhan jadi “sekadar” nabi. Semurka itu pula orang Islam melihat Ahmadiyah menciutkan kapasitas Muhammad dari nabi penutup menjadi sekadar rasul yang masih harus disambung ajarannya.

Sejarah terus berulang, dan di atas sana, Tuhan seperti terus belajar, “berusaha” menemukan format terbaik bagi manusia.

Yahudi berteriak kepada orang Kristen, “Hei yang kreatif dikit dong. Silakan buat agama baru, tapi ngga usah bawa-bawa agama kami, trus dikutak-katik!”

Kristen pun agak terganggu ketika menyadari dalam ajaran Islam Yesus ternyata “dibawa-bawa”. Lihat bagaimana dunia Kristen, terutama Katolik gusar, melihat mendiang Paus Yohannes Paulus II dengan takjim mencium Al-Qur’an, kitab yang menentang habis-habisan keilahian Yesus, sebuah item iman paling penting dalam ajaran Kristen.

“Ngapain Islam bawa-bawa Yesus, sok-sok ngoreksi ajaran Kristen pula. Buat yang baru dong, ngapain berbasis agama orang, dan hadir bak editor yang membuat revisi,” begitu kira-kira protesnya.

Nyadar nggak, kaum muslimin pun hari-hari ini, meneriakkan kegusaran Yahudi 2000 tahun lalu itu, kepada Ahmadiyah, agama baru yang membawa-bawa ajaran Islam. “Silakan buat agama baru, tapi jangan bawa-bawa Islam”.

—————————————-

Mereka yang merasa terganggu itu sepertinya lupa, sedang berlangsung proses belajar dan riset bersinambungan, menemukan format ideal, rute terbaik bagi perjalanan iman.

Tapi apa iya sih, Tuhan sedang belajar, terus mencoba-coba formula iman? Lantas mau dikemanai itu julukan Mahatahu, bahwa dia bisa melihat ke dasar hati, bisa membawa kata-kata yang tak sempat terucap.

Masa sih Tuhan trial end error, ngga keren banget! Konon lagi bila melihat fakta, betapa dampak dari revisi “kebenaran” yang bolak-balik itu, manusia dulu, kini, dan nanti, terjebak kepada perpecahan dan permusuhan.

Bukankah kesan bahwa Tuhan pun sedang belajar dan mencoba-coba ini mestinya tak perlu ada, jika saja Adam dulu dititipi sebuah ajaran kebenaran yang final, the comprehensive guidance for all humanbeing. Biar kecerdasan dan progresivitas peradaban kita yang secara bertahap makin memahami ajaran yang final dan tunggal itu, bukannya Tuhan jadi kelihatan gimanaaa gitu bolak balik menyesuaikan sabda-Nya dengan daya serap akal dan imajinasi manusia.

Tapi iya juga sih. Andai begitu kejadiannya, posting bertele-tele ini tak akan pernah ada ya. :D

31 Responses to “Jika Semua Agama Benar, Tuhan Tampaknya Sedang Belajar”

  1. SALNGAM Says:

    Para Theolog kristen menyebut kelakuan Tuhan ini dengan “Providensia” dan pendeta HKBP menyebutnya Hahomion ni Debata.
    Kalau kita gabungkan lagi dengan agama-agama sebelum dan seusdah agama samawi ini mungkin lebih seru lagi.
    Coba bayangkan Zeus vs Tuhan agama Samawi (Ada miripnya Jesus dengan Hercules dan Arens dengan Iblis), Ketuhanan versi Keyakinan Sumerian (Mesopotamia), Sang Myang Moon (The Messiah that married and become parent, dll. Kok hal-hal ini bisa terjadi? Mengapa hal ini bisa terjadi kalau menurut kita there is only one God. Kenapa Tuhan membiarkan ini terjadi???.
    Dari apa yang saya baca pada “old and new” testament boleh saya tarik garis merah seolah-olah Tuhan mau menyatakan kepada saya..Lihat dan camkan, saya bisa melakukan apa saja!. Memang dia adalah yang alpha dan omega, Paling tidak jejaknya untuk ribuan tahun bisa di traceback, maybe akan bisa nanti dtrace sesuai dengan theory “big bang”, dan tampaknya sampai kini sadar tidak sadar bahwa ada updating Tuhan tentang eksistensiNya. Contoh paling konkrit adalah ulasan Lae ini!!!.
    Teruskanlah bereksplor. Mintalah Hikmat dari Tuhan yang kamu yakini benar-benar Tuhan dihatimu (from my today point of view). Semoga sukses dalam pencaarianmu. Salam

  2. ulan Says:

    hauahuahuahuahuahuhau…
    om nesia emang keren..
    saya setuju Tuhan sedang belajar om..

  3. itikkecil Says:

    saya kok jadi membayangkan banyaknya laki-laki sial yang tewas di pagi hari :lol:

  4. daeng limpo Says:

    merenung …………………

  5. abah oryza Says:

    perenungan yang menarik, sepertinya perlu di renungi dan di pahami lebih dalam, ini bisa jadi bahan serius untuk para pembelajar perbandingan agama (khususnya agama samawi)

  6. danalingga Says:

    Walah, mantak kali ini lae. *melihat kagum*

    Kalo saya lihat hal yang ditulis dalam artikel ini adalah suatu kombinasi dari:

    Tuhan itu sebagaimana prasangka hambanya dan tiap-tiap individu manusia mempunyai kebutuhan petunjuk yang berbeda-beda.

  7. zoel Says:

    bole juga pemikirannya,,, satu lagi kenapa mesi 25 rosul,, apa g’ cukup 1 :D

  8. irdix Says:

    uhmm..
    DIA lagi bercanda kali yah?

  9. meiy Says:

    karena kita selalu sedang belajar bang Toga, belum tentu apa isi kepala kita bahkan hati itu yg benar…krn sering manusia memikirkan Tuhan dg ukuran manusia yg terbatas sangat.

    kita bisa saja menganggap Tuhan belajar atau Tuhan begini begitu, DIA tetap saja Tuhan. nah kan bingung sendiri gue :D

    aku sendiri sedang mencari dan mencoba akselarasi masa udah tue pemahamanku masih dangkal? anehnya tambah aku belajar tambah merasa bodoh :(

  10. sutan Says:

    saya yakin, tuhan pasti mempunyai banyak rahasia yang tidak diketahui oleh makhluk ciptaannya. salam

    http://catra.wordpress.com/2008/05/12/agama-langit-ciptaan-siapakah/

  11. oddworld Says:

    Jadi ingat lagunya joan osborne

    “What if god was one of us
    Just a slob like one of us
    Just a stranger on the bus
    Trying to make his way home
    Just trying to make his way home
    Like a holy rolling stone
    Back up to heaven all alone
    Just trying to make his way home
    Nobody calling on the phone
    Except for the pope maybe in rome”

    Mungkin Tuhan juga bingung karena sebelumnya pastilah tidak ada semacam “Idiot’s-Guide-about-How-to-Became-a-God-for-human-kind”
    Tulisan yang bagus bung :)
    Except for the pope maybe in rome

  12. panabiduhut Says:

    Tuhan…pasti hanya satu
    dan tidak sedang belajar, tetapi sedang mengajar

  13. nindityo Says:

    ato kita yang selalu tergopoh-gopoh mengartikannya yang akhirnya malah sering salah? eh.. ternyata tuhan begini lho.. eh ternyata begitu lho..
    eh.. menurutku begini kok.. kamu salah.. kubunuh kau.. dan matilah tuhan karena tidak sama dengan apa yang kita yakini :D

  14. supono Says:

    Ngga sreg dgn kesan anda mengenai Tuhan. Dalam Islam ada ilmu Tauhid coba deh anda pelajari 1-1 n jgn 1/2-1/2.
    Dan sebenarnya Tuhan hanya ada 1 tetapi yang diper tuhan kan tdk terhitung banyaknya.
    Ilmu Tuhan seluas langit dan bumi dan kita hanyalah dalam skenario Nya yang hanya Dia yg tahu bagaimana ending nya, happy or sengsara

  15. Ryan Shinu Raz Says:

    Horas !!!
    Perenungan yang sangat bagus. Tapi saya tetap tidak setuju kalau Tuhan Sedang Belajar. Apalagi semua agama benar.

  16. steele Says:

    Jikalau kita-kita percaya dengan adanya Tuhan, marilah kita percaya akan kinerja Nya. Tuhan tergantung dari prasangkaan hamba2nya, maka tetaplah selalu berprasangka baik terhadap Nya.

  17. jor Says:

    agama bukan untuk dibanding bandingkan. jadi anda ngga usah repot palajari agama lain selain yang qmu yakini. atau mungkin qmu tidak yakin dengan agama mu sndiri??? Allah hanya mengakui agama Islam. Dalam hal AllAH telah menurunkan kitab2 lain (Zabur, Taurat, Injil)dan Rasul Nya sebelum Al Qur’an, qmu ngga usah bingung….. tau ngga loh, waktu itu jaman jahiliyah (kebodohan). Kitab 2 itu buat pedoman hidup manusia dijaman itu. Kitab kitab itu belum sepenuhya dipelajari, dihayati dan diamalkan udah keburu pada “diangkat” tuh para rasul,karena manusia nya memang sangat bodoh dan tidak bisa diatur. Malah Kitab kitab itu di edit pula oleh manusia bodoh dengan bahasa yang berbeda dan versi beda pula. Coba siapa yang tau Kitab Asli ZABUR, TAURAT dan INJIL pake bahasa apa? Inggris? Jerman? Jawa? Sunda or Batak?. Makanya Allah menyempurnakan Kitab2 terdahulunya dengan menurunkan Al Qur’an sebagai Kitab suci, Al qur’an adalah kitab asli loh belum di edit dengan versi yang berbeda (pernah denger ngaji pake bahasa batak ngga, he,he,he) dan Muhammad SAW utusan yang terakhir yg sempurna. Allah telah berfirman koq bahwa Agama Islam yang disebarkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah agama yang sempurna. Dan bila Al Qur’an sudah tidak jadi pedoman hidup manusia, maka kiamatlah dunia ini. Qmu percaya KIAMAT??? itu salah satu nya janji Allah. Nah sekarang terserah qmu, masih mau mencari kebenaran yang mana lagi??? Logikanya: Undang2 jg, mana yang terbaru itu yang berlaku. Undang2 lama sudah kuno, apa kata dunia. ha,ha,ha.
    Kitab Lama??? buat orang yang lama dan jahiliyah aja bang togar.

  18. Pangulu Says:

    Semua bebas menulis dan berkomentar , dengan catatan dengan bahasa Indonesia, karena Tuhan tidak mengerti bahasa Indonesia , ya toh !

  19. jor-jor Says:

    Hi jor,
    belagu loe…
    dari mane lu tahu bahwa Allah-mu yang menurunkan kitab2 lain (Zabur, Taurat, Injil). Loe kira kitab-kitab itu diturunkan macam menjatuhkan sebuah buku dari lantai 2 ke lantai 1.

    Allah dalam kitab2 lain (Zabur, Taurat, Injil) bukanlah nama, tetapi hanya sebutan dalam bahasa melayu/indonesia, jadi jangan pikir bahwa allah yang ditulis dalam kitab2 lain (Zabur, Taurat, Injil) itu sama dengan pengertian allah dalam Alquran-mu. allah dalam kitab2 lain (Zabur, Taurat, Injil) tersebut kalau diterjemahkan dalam bahasa batak adalah debata, atau bahasa bali mungkin dewata. nama Tuhan dalam kitab2 lain (Zabur, Taurat, Injil) adalah YHWH atau ada yang sebut Yehovah atau Jahowa atau Yahweh. Allah-mu hanya tahu bahasa Arab, sehingga kalau diledekin pakai bahasa batak, dia akan terbengong-bengong dan tersipu malu, habis ngertinya hanya bahasa Arab doang…doanggggg….

  20. yakin Says:

    Wah, repot amat nih orang-orang bahas agama.
    Tidak ada yang bisa membuktikan agama mana yang benar, semua agama adalah buatan manusia, kitab suci juga dibuat oleh manusia, tidak ada tulisan yang turun dari langit (mustahil). Sekarang, jika kita meyakini agama yang kita anut benar, laksanakan dengan baik dan jangan mengklaim agama orang lain tdk benar. Jawabannya hanya ada satu, nanti di penghakiman yang terakhir baru kita akan melihat siapa hakim agung itu dan siapa yang akan dibebaskan dan diselamatkan-Nya.

  21. cells Says:

    Keren sekali bahasannya,bang (orang batak kan). G suka :) G ijin buat reference di blogku ya ntar. Kalau menurut g yg awam ini sih, setiap orang punya kebebasan utk memilih agamanya masing2. Indonesia ini aza ngakuin kok. Tapi kok masih2nya banyak yg ga setuju ma hukum ini. Jika agama itu membawanya masuk surga atau neraka, bukannya Tuhan sendiri yg sejati yang berhak menentukannya. Mengapa manusia harus menghakimi, mengejar2 ataupun membunuh yg tidak sealiran dengannya. Wong Tuhan yang punya ‘agama’, bukan manusia. Dia aza tidak marah2, kenapa yg ‘ngerasa punya agama’ itu yg marah? Apa ‘yg ngerasa punya agama’ itu merasa bahwa Tuhannya ga sanggup mengadili sehingga dia harus turun tangan sendiri? Jadi kupikir, terserah setiap orang mau memilih jalannya masing2, tidak perlu lah marah2 atopun mengadili orang lain. Wong setiap kita bukannya orang yang tanpa cacat cela. Kok jadi curhat di sini, salah tempat ya :D Anyway, thanks ya Bang.

  22. woman Says:

    A Morning conversation:

    Morning conversation

    Woman A: i never dreamt to be a president
    Woman A: neither want to
    Woman B: i sometimes daydreaming about being a president
    Woman B: i’ll lead this country with iron hands
    Woman B: kayak suharto
    Woman B: i think it needs it
    Woman A: :))
    Woman A: komunis nt didemonya
    Woman B: krn rakyat kt pada bodoh
    Woman B: trus jahat2 lg, g ada gunany make demokrasi
    Woman B: sama kaya Tuhan
    Woman B: jaman dulu aturanNya keras
    Woman B: setelah manusia agak pinter n beradab, aturanNya melunak
    Woman B: krn pd wkt itu baru manusia bs diajak komunikasi dg baik mgkn
    Woman A: :D
    Woman A: jd yg sekarang mendng ga usah diarahin dgn lembut ya
    Woman A: lsg aza diperintah
    Woman A: krn blm bisa mikir buat dirinya sendiri
    Woman B: yupe
    Woman B: :D
    Woman B: jd g bener itu blog ny si toga
    Woman B: bukan Tuhan yg belajar
    Woman B: tp manusia
    Woman B: tp krn kita disini, kita pikir Tuhan yg belajar
    Woman A: Tuhan menyesuaikan
    Woman B: ky dr bumi kita liat matahari yg muter
    Woman A: dng kapasitas manusia
    Woman B: pdhl asliny bumi yg bergerak muterin matahari
    Woman A: yupe
    Woman A: that’s rite
    Woman A: comment gih di blognya
    Woman A: :))
    Woman B: :D
    Woman B: males
    Woman B: biarlah yg bodoh tetap bodoh
    Woman B: mkny gw pkr manusia pinter itu terperangkap dlm otakny sndr
    Woman B: n jadi bodoh
    Woman A: :D
    Woman A: justru kl gt butuh pencerahan
    Woman A: mknya Tuhan suruh kt kabarin
    Woman A: biar mrk ga sesat terus
    Woman B: - -
    Woman B: *kepala batu mode: on
    Woman A: :D
    Woman A: kl dulu kt suka becanda
    Woman A: nanti lu ditelan ikan paus
    Woman A: jd yunus
    Woman B: wkkkkkk
    Woman B: :D
    Woman B: mungkin yah

    Jd biar gw g dimakan ikan paus, gw submit comment ini

  23. CY Says:

    Hahaha… perenungan yang bagus sekali lae.
    Bagaimana kalo saya injeksikan satu lagi paham nyeleneh berikut :
    “Tuhan tak bisa menghapus dosa, krn kalau Dia lakukan hal itu sekaligus akan meluluhlantakkan imageNya sebagai Sang Maha Adil.” :lol:

  24. hh Says:

    @CY
    Keadilah Tuhan adalah: memvonis benar orang yang benar, dan memvonis salah orang yang bersalah.

  25. christian johan Says:

    sebenarnya tidak sedang belajar lae. Coba baca2 kitab Yeremia, Firman Tuhan mengatakan kita tidak bisa memahami rancangan Tuhan. tetapi damai sejahtera senantiasa diberikan pada kita.
    Dan sesungguhnya melalui Tuhan Yesus, sang Mesias yang dijanjikan Tuhan dalam kitab Taurat dan kitab nabi-nabi digenapi. Yang penting bagi saya sih, janganlah kita berdoa semoga para pemimpin agama tidak menjadi farisi-farisi baru. Janganlah kita menyalibkan Tuhan untuk kedua kalinya.

  26. gw cameng Says:

    kalo allah sedang belajar berarti allah itu BODOH ,…
    bukankah dalam kitab2 para nabi allah maha sempurna..
    kalo lo ga percaya lo tunggu jawabanya kalo lo mati nanti…mang lo ga inget mati ya…

  27. tje Says:

    Allah hanya ada 1, tidak ada tuhan selain ALLAH, dari pertama adanya agama adalah membawa amanah tentang itu. saudara sampaikan apapun cermatilah itu dan waspadalah supaya saudara tidak menyimpang sedikitpun

  28. widodo Says:

    Hai Bang Toga salam kenal….tulisan Abang sangat menarik dan inspiratif, teruslah menulis Bang! Ah..seandainya saja setiap warga Indonesia bisa beriman secara damai dan santai seperti Abang ini, alangkah indahnya Indonesia.

  29. Bosca ujung Says:

    Saluut

  30. Bosca ujung Says:

    lakum dinikum waliadin

  31. bedun Says:

    kita manusia adalah terbatas, jadi kita tidak mungkin mengerti pikiran & perasaan Tuhan yang begitu unlimited. so..sebenarnya kitalah yang belajar, kita mencoba menafsirkan Tuhan menurut kehendak kita dan pikiran kita sendiri yang terbatas, yang dipengaruhi oleh latar belakang dan lingkungan kita. makanya timbul banyak agama dan banyak sekte agama. kita yang berdosa ini tidak akan bisa mengerti dan menjangkau Tuhan yang sangat suci. Jadi kesimpulannya adalah….bila Tuhan sendiri tidak turun ke dunia dan membukakan pengertianNya kepada kita, maka sampai kapanpun kita tidak akan pernah mengerti pikiran & perasaanNya. BU all

Leave a Reply

Bottom